<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Orang Tolol</title>
	<link>http://orangtolol.blogdetik.com</link>
	<description>tolol dalam pikiran, perkataan, tulisan dan perbuatan, ha ha ha ha</description>
	<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 08:51:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Ada waktunya, Pasti</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/07/01/ada-waktunya-pasti/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/07/01/ada-waktunya-pasti/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 08:47:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangtolol.blogdetik.com/2008/07/01/ada-waktunya-pasti/</guid>
		<description><![CDATA[Tenanglah,
semua ada waktunya sendiri
pasti!
Jika sudah gilirannya
meski kau sembunyi
atau lari seribu kali
tetap tak bisa dihindari
(buat A, yang gelisah, maaf si tolol ini tak bisa memberimu nasehat yang lebih bijak, hehehehee)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tenanglah,</p>
<p>semua ada waktunya sendiri</p>
<p>pasti!</p>
<p>Jika sudah gilirannya</p>
<p>meski kau sembunyi</p>
<p>atau lari seribu kali</p>
<p>tetap tak bisa dihindari</p>
<p>(buat A, yang gelisah, maaf si tolol ini tak bisa memberimu nasehat yang lebih bijak, hehehehee)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/07/01/ada-waktunya-pasti/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Email Cinta Sang Suami</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/05/28/email-cinta-sang-suami/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/05/28/email-cinta-sang-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 09:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangtolol.blogdetik.com/2008/05/28/email-cinta-sang-suami/</guid>
		<description><![CDATA[Hidupku&#8230;&#8230;  hidupku&#8230;&#8230;
Tak mudah kurangkum diriku dalam satu-dua pemaknaan. Ini bukan karena karena aku kompleks, atau karena aku sosok yang sederhana. Tak mudah, bahkan untuk sekedar mengerti siapa diriku ini. Apakah aku memang seperti aku adanya? Ataukah aku sekedar obsesi-obsesi yang meng-aku : sebuah harap terselubung, sebuah idealisasi?
Aku, orang yang berbahagia,  dipenuhi harapan,  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidupku&#8230;&#8230;  hidupku&#8230;&#8230;</p>
<p>Tak mudah kurangkum diriku dalam satu-dua pemaknaan. Ini bukan karena karena aku kompleks, atau karena aku sosok yang sederhana. Tak mudah, bahkan untuk sekedar mengerti siapa diriku ini. Apakah aku memang seperti aku adanya? Ataukah aku sekedar obsesi-obsesi yang meng-aku : sebuah harap terselubung, sebuah idealisasi?</p>
<p>Aku, orang yang berbahagia,  dipenuhi harapan,  tapi tidak bisa mengelak dari kesedihan, keputus-asaan, serta rasa penasaran dan ketakfahaman pada berbagai kesederhanaan dan misteri kehidupan.</p>
<p>Dan hai, sekarang di sinilah aku duduk&#8230;..  menulis beberapa deret kesimpulan, pertanyaan,  juga jawaban, untuk sejumlah lika-liku sederhana yang kutemui,<br />
mungkin di separuh  perjalanan hidupku. Mencoba berkaca pada kilasan insiden, peristiwa, kebetulan, hingga sekadar usaha-usaha mengisi dan menunda ketidakabadian.</p>
<p>Ada hari-hari yang tertulis rapi, indah, dan meninggalkan jejak yang hangat pada tahun, bulan, hari, jam, dan menit-menit yang berlalu. Aku masih mengingatnya, dengan kenangan tersenyum. Tapi, tidak pernah kuharapkan hari-hari itu kembali, karena kutemukan keindahan pada kisah-kisah masa lalu itu, setelah banyak kutafsirkan kepedihan, dengan segenap luka dan permaafanku.</p>
<p>Hari ini, tentu saja hanyalah lanjutan langkah-langkah kecilku, yang sebentar kemudian akan menjadi jejak. Ada kegamangan: apakah langkah-langkah kecil ini harus dilanjutkan?  Namun, dengan sederhana juga bisa kukatakan, bahwa kutemukan pula keteguhan sederhana: bukankah langkah-langkah kecil ini yang menjadikanku berarti?</p>
<p>Karena semua itu, istriku&#8230;..<br />
Aku mencintaimu, karena aku hanya ingin mencintaimu, dan ingin tetap mencintaimu, dengan semua keindahan dan kesederhanaan yang bisa kusyukuri dari kehidupan, dan kehadiranmu&#8230;.</p>
<p>I love you</p>
<p>******</p>
<p>: itu email dari suamiku saat aku selama satu minggu karena tugas kantor, tidak bisa pulang ke rumah. Itu juga surat cinta pertama setelah 7 tahun kami menikah.  Kami, aku dan suami, setelah tinggal serumah setelah menikah, memang tidak pernah lagi surat-suratan. Apa-apa langsung diomongkan kalau ketemu.</p>
<p>Aku sangat suka email suamiku itu, membaca email itu aku jadi teringat puisi &#8216;Aku Ingin&#8217; -nya Sapardi Djoko Darmono. Hehehehehee, narsis ya? Si tolol ini memang referensi soal puisinya sangat terbatas, paling-paling ingetnyaSapardi aja.</p>
<p>Oh ya, sehabis membaca email itu aku juga menangis, hahahhaa, dan lagi-lagi teringat puisinya Sapardi &#8216;dalam diriku&#8217; yang terilhami lagu because-nya Beatles, &#8216;karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya. versinya Beatles, because the sky is blue, it makes me cry, because&#8230;&#8230;<br />
Ini puisi &#8216;Dalam Diriku&#8217; Sapardi:</p>
<p align="justify"><font face="Comic Sans MS" size="2">dalam diriku mengalir sungai panjang, darah namanya</font></p>
<p align="justify"><font face="Comic Sans MS" size="2">dalam diriku menggenang telaga darah,</font></p>
<p align="justify"><font face="Comic Sans MS" size="2">sukma namanya</font></p>
<p align="justify"><font face="Comic Sans MS" size="2">dalam diriku meriak gelombang sukma, hidup namanya!</font></p>
<p align="justify"><font face="Comic Sans MS" size="2">dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.</font></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p>Yang ini lirik Because-nya Beatles:</p>
<p>Because the world is round it turns me on,<br />
Because the world is round&#8230;aaaaaahhhhhh</p>
<p>Because the wind is high it blows my mind<br />
Because the wind is high&#8230;&#8230;aaaaaaaahhhh</p>
<p>Love is all, love is new<br />
Love is all, love is you</p>
<p>Because the sky is blue, it makes me cry<br />
Because the sky is blue&#8230;&#8230;.aaaaaaaahhhh<br />
Aaaaahhhhhhhhhh&#8230;.</p>
<p>*****</p>
<p>Tentu jika dibandingkan dengan puisi Sapardi dan Beatles, email cinta suamiku, belum ada apa-apanya, hehehhee. Tapi bagaimana pun, email itu telah membuatku bahagia dan mensyukuri hidup. Dan itu lah poin-nya, bahagia dan mensyukuri hidup. Jadi meski tolol, aku tetap harus belajar untuk terus mensyukuri hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/05/28/email-cinta-sang-suami/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia: Makhluk Mengasyikkan, Tapi Menjengkelkan</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/05/14/manusia-makhluk-mengasyikkan-tapi-menjengkelkan/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/05/14/manusia-makhluk-mengasyikkan-tapi-menjengkelkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 09:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangtolol.blogdetik.com/2008/05/14/manusia-makhluk-mengasyikkan-tapi-menjengkelkan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kini, manusia adalah orang, makhluk yang lebih mengasyikkan tapi juga menjengkelkan.&#8221;
Itu salah satu kalimat yang sangat saya sukai yang saya kutip dari catatan pinggir (Caping) Goenawan Mohamad yang berjudul Mak, Tempo edisi 11 Mei 2008. Caping bagi saya selalu menarik. Banyak sekali kalimat-kalimat yang unik, cerdas, bijaksana dan kena banget gitu, seperti kata-kata mutiara. Ya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kini, manusia adalah orang, makhluk yang lebih mengasyikkan tapi juga menjengkelkan.&#8221;</p>
<p>Itu salah satu kalimat yang sangat saya sukai yang saya kutip dari catatan pinggir (Caping) Goenawan Mohamad yang berjudul Mak, Tempo edisi 11 Mei 2008. Caping bagi saya selalu menarik. Banyak sekali kalimat-kalimat yang unik, cerdas, bijaksana dan kena banget gitu, seperti kata-kata mutiara. Ya iyalah, namanya juga tulisan GM ya, sudah tentu jaminan mutu.</p>
<p>Tulisan GM, sering saya jadikan referensi untuk mencari buku-buku baru. Saya sering penasaran dengan buku yang dikutip GM. Tapi setelah membacanya sendiri, sering kali saya jadi tidak mudeng. Ha hahahaha.</p>
<p>Oh ya, saya sering beranggapan banyak orang membeli majalah Tempo hanya untuk membaca Caping doang. He he hehe, berlebih-lebihan ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/05/14/manusia-makhluk-mengasyikkan-tapi-menjengkelkan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bikin Blog Bayar Berapa?</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/30/bikin-blog-bayar-berapa/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/30/bikin-blog-bayar-berapa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 09:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/30/bikin-blog-bayar-berapa/</guid>
		<description><![CDATA[Ini kisah nyata saya dengan seorang petinggi atau orang penting partai politik. Tidak usahlah saya sebut namanya dan nama partainya. Gak enak dan saya kira tidak perlu. Umurnya saja ya, belum ada 40 an kayaknya dan berpengetahuan cukup luas, setidaknya ia banyak berbicara soal gender dan pendidikan.
Saat itu gerimis sedang berderai-derai. Teman saya sedang menjelaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini kisah nyata saya dengan seorang petinggi atau orang penting partai politik. Tidak usahlah saya sebut namanya dan nama partainya. Gak enak dan saya kira tidak perlu. Umurnya saja ya, belum ada 40 an kayaknya dan berpengetahuan cukup luas, setidaknya ia banyak berbicara soal gender dan pendidikan.</p>
<p>Saat itu gerimis sedang berderai-derai. Teman saya sedang menjelaskan tentang tata cara ngeblog di detikcom kepada salah satu orang penting di negeri ini. Nah petinggi parpol itu tangan kanannya si orang penting.</p>
<p>Setelah mendapatkan penjelasan soal ngeblog, si petinggi parpol  itu tampak sangat antusias. Ia lantas mulai bertanya.</p>
<p>Petinggi parpol: Syaratnya apa kalau mau ngeblog?</p>
<p>Teman saya: Daftar saja. Nanti akan dikasih pasword untuk bisa posting.</p>
<p>Petinggi parpol: Apa saja yang harus diserahkan?</p>
<p>Teman saya bingung: maksudnya?</p>
<p>Petinggi parpol: Perlu ngasih fotokopi KTP atau apa?</p>
<p>Teman saya : Oh tidak. Cukup daftar saja.</p>
<p>Petinggi parpol: Harus bayar berapa untuk daftar?</p>
<p>Teman saya sambil menahan tawa menjawab: Nggak bayar, daftar saja.</p>
<p>Petinggi Parpol: Oh gitu ya, saya kira harus membayar.</p>
<p>He hehe he, saya sebenarnya juga menahan tawa. Tapi saya nggak tega.  Suatu hari saya ceritakan kisah ini pada teman saya yang suka menulis humor, dan dia tertawa-tawa senang. teman saya itu yang kerjanya mengelola pasokan humor pada sebuah media massa, berkata akan memuat cerita itu sebagai salah satu humornya.</p>
<p>Waduh! Saya jahat ya? Orang nggak tahu kok dijadikan bahan olok-olok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/30/bikin-blog-bayar-berapa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tolol Tapi Tidak Bodoh, Suer!</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/28/tolol-tapi-tidak-bodoh/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/28/tolol-tapi-tidak-bodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 07:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/28/tolol-tapi-tidak-bodoh/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa saya? Susah kalau saya harus mendiskripsikan diri saya sendiri. Tapi okelah saya mulai. Pertama, saya sadar banget saya tolol. Tapi saya tidak bodoh loh. Suer! Saya masih bisa memahami dan menuntaskan banyak hal. Tapi silakan anda berpendapat sendiri.
Lalu, Saya tahu saya narsis tapi sering tidak percaya diri. Terus,  saya tidak kaya, tapi saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa saya? Susah kalau saya harus mendiskripsikan diri saya sendiri. Tapi okelah saya mulai. Pertama, saya sadar banget saya tolol. Tapi saya tidak bodoh loh. Suer! Saya masih bisa memahami dan menuntaskan banyak hal. Tapi silakan anda berpendapat sendiri.</p>
<p>Lalu, Saya tahu saya narsis tapi sering tidak percaya diri. Terus,  saya tidak kaya, tapi saya tidak miskin, apalagi miskin hati, amit-amit deh. Nggak banget. Saya cukup baik hati, meski nggak baik banget kayak malaikat, tapi hati saya masih mudah tersentuh hal-hal yang mengharukan ataupun menyedihkan.</p>
<p>Hobi? Saya suka baca buku, meski itu buku-buku pop dan masih enggan menyentuh buku-buku teori yang berat-berat.</p>
<p>Jadi saya ya biasa-biasa saja, orang kebanyakan, common people,  tidak istimewa dan hanya sedikit yang tahu diri saya. Tapi semua itu, saya anggap tidak penting. Yang paling membanggakan bagi saya, saya adalah seorang ibu. Bagi saya inilah hal paling hebat dalam hidup saya, menjadi seorang ibu. Anda boleh mendebat atau mentertawakan soal ini.</p>
<p>Banyak orang bisa menjadi seorang ibu, gitu saja kok membanggakan! hehehhe, silakan saja anda berkomentar demikian. Tapi menjadi seorang ibu, bagi saya, tetaplah merupakan hal yang sangat hebat. Terutama menjadi ibu yang sukses, sukses mendidik anak dan sukses mendidik diri sendiri.</p>
<p>Tanya cita-cita saya?  Saya ingin menjadi ibu yang bisa membahagiakan, mencerahkan dan menginspirasi anak-anak saya. Cieee, berat ya cita-cita saya, secara saya orang tolol gitu loh? hehehee</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/28/tolol-tapi-tidak-bodoh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Tanpa Harga Diri</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/22/orang-tanpa-harga-diri/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/22/orang-tanpa-harga-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 08:05:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/22/orang-tanpa-harga-diri/</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah orang tanpa harga diri? Jeng Jeni yang sehari-hari naik bus kota memiliki versinya sendiri. Bagi Jeng Jeni, orang tanpa harga diri adalah seorang pria gagah yang selalu ditemuinya di bus kota. Si pria memiliki badan tinggi dan besar. Wajahnya pun garang dengan kulit tampak hitam terbakar. Jadi kesannya ia sangar.
Di atas bus kota, pria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapakah orang tanpa harga diri? Jeng Jeni yang sehari-hari naik bus kota memiliki versinya sendiri. Bagi Jeng Jeni, orang tanpa harga diri adalah seorang pria gagah yang selalu ditemuinya di bus kota. Si pria memiliki badan tinggi dan besar. Wajahnya pun garang dengan kulit tampak hitam terbakar. Jadi kesannya ia sangar.</p>
<p>Di atas bus kota, pria gagah ini bercerita betapa kerasnya hidup di Jakarta. Betapa susahnya cari kerja. Maka ia beralasan, dari pada jadi kriminal, lebih baik jadi peminta-minta di bus kota. &#8220;Tolonglah saya, hanya untuk sekadar membeli makan pagi ini saja,&#8221; pinta si pria gagah itu dengan gaya dibuat memelas sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Si pria gagah itu kembali membungkuk sambil mengucapkan terimakasih setiap ada orang yang memberinya recehan.</p>
<p>Mengapa orang sampai bisa kehilangan harga diri seperti itu? Gagah-gagah kok tidak tahu malu? Mau-maunya membungkuk-bungkuk hanya untuk angsuran recehan! Dasar orang malas, gerutu Jeng Jeni.</p>
<p>Saat ngopi bersama sang suami, Jeng Jeni menceritakan kisah &#8216;orang tanpa harga diri&#8217; itu. Mas Hari, suaminya yang seorang dosen mesam-mesem mendengar cerita Jeng Jeni. Setelah menyeruput kopi instan, Mas Hari berkata, &#8220;Itu masih lumayan Jeng! Banyak tuh perempuan melacur, apa itu bukan orang yang menjual harga dirinya?&#8221; kata Mas Hari.</p>
<p>&#8220;Tapi masalahnya adalah, apakah orang-orang itu tidak mempunyai harga diri karena bawaan nasib atau karena memang dipaksa tidak memiliki harga diri?&#8221; ulas Mas Hari.</p>
<p>&#8220;Maksud Mas, ada orang yang tidak memiliki harga diri karena memang dibuat seperti itu? Mereka dipaksa tidak memiliki harga diri atau membuang harga dirinya karena tidak punya pilihan lain?&#8221; tukas Jeng Jeni.</p>
<p>&#8220;Ya iyalah Jeng! Kalau negara mengurus kesejahteraan warganya dengan baik, pekerjaan bisa gampang didapat, pendidikan tidak mahal sehingga bisa diraih semua orang, ya nggak mungkin toh, atau setidaknya ya sedikitlah, orang mau membuang harga dirinya. Masa ada sih orang yang dengan sukarela mau kehilangan harga dirinya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, kalau apa-apa pemerintah yang disalahin, ya nggak selesai-selesai Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh bukannya memang para pejabat, yang bekerja di pemerintahan itu kita bayar lewat pajak untuk mengurus warganya agar sejahtera? Mereka kan memang abdi negara, Jeng. Kalau semuanya, lagi-lagi harus warga juga, warga juga, lalu apa tugas pemerintah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saat semua harga pada naik, apa coba yang turun, Jeng? Harga dirilah yang kemudian turun atau terpaksa diturunkan. Kalau sebagai warga, apalagi serba terbatas, masih beruntung bisa menjaga harga diri agar tidak hilang. Syukur-syukur lagi bisa membantu saudara, sahabat, atau orang dekat kita agar jangan sampai kehilangan harga dirinya,&#8221; terang sang dosen.</p>
<p>Jeng Jeni lalu diam. Kalah seri rupanya. Ia mengangguk-angguk lalu mencomot donat. Tapi kemudian ia berkata. &#8220;Seharusnya memang seperti itu Mas. Sayangnya orang-orang yang berkuasa itu banyak juga yang tidak memiliki harga diri. Mereka memang tidak merunduk-runduk di bus kota. Mereka itu sopan, berpura-pura seperti orang yang punya harga diri. Tapi mereka tidak tahu malu dengan menjadi peminta-minta atau bahkan pemeras. Bedanya, mereka bermodal proposal atau peraturan yang mereka buat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitulah Jeng. Orang tanpa harga diri itu bukan hanya karena miskin dan tidak mempunyai pekerjaan. Memiliki pekerjaan tapi berselingkuh, alias mengkhianati pekerjaannya, ya sama saja juga dengan tidak punya harga diri. Makanya ada jaksa, yang pekerjaannya jelas-jelas terhormat, ditangkap karena minta suap. Lalu ada pejabat yang digaji negara asyik tidur saat Presiden memberi pengarahan,&#8221; kata Mas Hari.</p>
<p>Sesaat pembicaraan serius itu terhenti. Hiroku, anak pasangan suami istri itu, baru pulang dari main. &#8220;Yah, boleh nggak nonton TV?&#8221; tanya Hiroku setelah masuk rumah dan mendekati ayah ibunya. Mas Hari mengangguk, dan lantas memencet remot control. Di televisi ada berita seorang anggota DPR ditangkap KPK. Namanya Al Amin Nasution.&#8221;Tuh Jeng. Nabi kan mendapat gelar Al Amin, artinya orang yang bisa dipercaya. Ini anggota DPR, namanya Al Amin kok malah tingkahnya seperti itu. Alamak,&#8221; sinis Mas Hari.</p>
<p>:dimuat di detikcom  11/04/2008 08:35</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/22/orang-tanpa-harga-diri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Gue Waria, Gue Udah Pakai Jilbab: Ivan Gunawan</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/07/kalau-gue-waria-gue-udah-pakai-jilbab-ivan-gunawan/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/07/kalau-gue-waria-gue-udah-pakai-jilbab-ivan-gunawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 10:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[seleb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/07/kalau-gue-waria-gue-udah-pakai-jilbab-ivan-gunawan/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kalau gue waria, gue udah pakai jilbab,&#8221;  cetus Ivan Gunawan asal.
Tahu kan siapa Ivan Gunawan? Sekadar berbagi saja ya, barangkali ada yang lupa atau tidak mengikuti perseleb-an tanah air. Ivan Gunawan adalah salah satu seleb yang sering nongol di televisi, soalnya dia menjadi salah satu komentator dalam acara Super Seleb Show. Nah soal penampilan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kalau gue waria, gue udah pakai jilbab,&#8221;  cetus Ivan Gunawan asal.</p>
<p>Tahu kan siapa Ivan Gunawan? Sekadar berbagi saja ya, barangkali ada yang lupa atau tidak mengikuti perseleb-an tanah air. Ivan Gunawan adalah salah satu seleb yang sering nongol di televisi, soalnya dia menjadi salah satu komentator dalam acara Super Seleb Show. Nah soal penampilan Ivan bersikap bunglon. Dalam acara itu, Ivan sebelumnya berpenampilan perempuan. Ia pun dipanggil Madam Ivan. Tapi belum lama ini, mungkin baru dua mingguan ya, penampilan Ivan berubah menjadi maskulin. &#8220;Gue kan jadi cowok oke, cewek juga cantik,&#8221; ujar Ivan .</p>
<p>Karena penampilannya yang sering &#8220;melambai&#8221; maksudnya kemayu alias kebencong-bencongan gitu&#8230;(maap ya) , mantan pacar penyanyi Rossa ini pun lantas digosipkan sebagai waria. Rupanya Ivan, meski sering berpenampilan feminin lengkap dengan make up-nya tersinggung berat dengan gosip ini. Ia merasa terhina, lalu keluarlah pernyataan paling atas tadi, kalau gue waria, gue udah pakai jilbab.</p>
<p>Jilbab, meskipun bentuknya hanya penutup kepala, memiliki sejarah yang sangat panjang. Kain yang biasa dipakai perempuan ini juga memiliki kontroversinya tersendiri. Sejumlah kalangan Islam mewajibkan para perempuan muslim memakainya. Kewajiban ini merujuk salah satu surat di Al Quran.Dengan merujuk Alquran pula, kalangan lainnya menolak kewajiban berjilbab. Kain penutup kepala itu disebut hanya merupakan &#8216;budaya&#8217; Arab.  Pemakaian jilbab harus dimaknai secara kontekstual, begitu sejumlah pembelaan bagi yang menolak kewajiban berjilbab.</p>
<p>Kemudian muncul pula pendapat, yang penting &#8216;menjilbab-i&#8217; hati. Ini merujuk atau menyindir para pemakai jilbab yang kurang ideal tingkah lakunya. Misalkan, kepala berjilbab, tapi pakaiannya serba ketat.</p>
<p>Dalam perjalanan selanjutnya, memang, beberapa waria yang biasanya suka mengumbar tubuhnya, dengan berpakaian minim di pinggiran jalan, memilih memakai jilbab.  Sebut saja misalnya Dorce.</p>
<p>Nah mungkin karena fenomena waria berjilbab itu, Ivan lantas  dengan asal memberi pembelaan bahwa dia bukan waria dengan menyebut salah satu contohnya, ia tidak berjilbab. &#8220;Kalau gue waria, gue udah pakai jilbab,&#8221; kata Ivan.</p>
<p>Ivan bisa jadi tidak salah. Bahkan pernyataan itu boleh jadi dianggap lucu. Tapi perkataan Ivan itu, bagi saya, sungguh sangat mengganggu dan tidak nyaman didengar . Yah, terdengarnya, seperti sebuah penghinaan bagi para pemakai jilbab.</p>
<p>Kesan saya, ucapan Ivan &#8220;kalau gue waria, gue udah pakai jilbab&#8221; bernada pelecehan. Mengapa Ivan mengaitkan waria dengan jilbab? Mengapa Ivan membantah ia bukan waria harus dengan menyatakan dia belum (tidak) pakai jilbab?</p>
<p>&#8220;Kamu saja yang tolol, omongan Ivan kok ditanggapi serius. Kayak nggak punya kerjaan  saja,&#8221; komentar saudara saya, seorang perempuan berjilbab, ketika saya ajak mengobrol soal pernyataan Ivan tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/07/kalau-gue-waria-gue-udah-pakai-jilbab-ivan-gunawan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ayat Ayat Tolol</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/03/ayat-ayat-tolol/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/03/ayat-ayat-tolol/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 07:40:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/03/ayat-ayat-tolol/</guid>
		<description><![CDATA[Saya menyarankan teman saya, seorang perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan pers asing, agar menonton film Ayat Ayat Cinta. Itu tuh film yang sangat heboh itu. Tiga juta lebih penonton telah digaet film garapan Hanung Bramantyo ini. Nyaris semua orang memperbincangkannya. Bahkan presiden mengajak para menterinya untuk nobar alias nonton bareng. Nah bisa dibayangkan betapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menyarankan teman saya, seorang perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan pers asing, agar menonton film Ayat Ayat Cinta. Itu tuh film yang sangat heboh itu. Tiga juta lebih penonton telah digaet film garapan Hanung Bramantyo ini. Nyaris semua orang memperbincangkannya. Bahkan presiden mengajak para menterinya untuk nobar alias nonton bareng. Nah bisa dibayangkan betapa hebohnya film Ayat Ayat Cinta ini.</p>
<p>Teman saya yang saya sarankan agar menonton film ini ternyata menolak mentah-mentah. Gak sudi, katanya. Menonton film yang mirip versi baru Catatan Si Boy (tokoh laki-lakinya teguh agama, ganteng dan disukai banyak perempuan), bagi teman saya, yang pernah diwawancara sebuah media massa sebagai salah seorang smart woman itu ,  hanya buang-buang waktu. Hmmmm&#8230;&#8230;</p>
<p>Kritikus film memang tidak ada yang memuji atau merekomendasikan AAC untuk ditonton. Sejumlah sastrawan terkenal juga menyatakan, tidak tertarik menonton atau membaca novel AAC.</p>
<p>Tapi meski tidak dianggap oleh para kritikus, tidak bisa dipungkiri, film kisah cinta Fahri, Aisya dan Maria ini telah membius jutaan orang. Pak Presiden bahkan mengaku menangis saat menontonnya. Teman sekantor saya ada yang menontonnya sampai tiga kali dan tiga kali itu pula dia dibuat mencucurkan air mata saat menontonnya.</p>
<p>Mengapa ya AAC menjadi fenomena yang menghebohkan, dan bisa membius jutaan orang? Menurut seorang sastrawan terkenal, AAC laris karena warga negara ini memang sangat doyan pada nasihat atau motivasi dan diberi contoh keteladanan. Makanya, lanjut si sastrawan,  pelatihan motivasi sangat laris di negeri ini. Kiai yang muncul di TV hanya modal tampang dan nyanyi-nyanyi doang dengan pengetahuan agama masih kurang, bisa mempunyai banyak penggemar.</p>
<p>Si sastrawan, dia seorang laki-laki,  mengaku, tidak tertarik dan tidak akan menonton ataupun membaca AAC, karena dia merasa bukan termasuk pada level orang yang membutuhkan motivasi-motivasi atau keteladanan lagi. Ooooo!</p>
<p>&#8220;Hanya orang tolol saja yang mau menonton AAC,&#8221; seru teman saya. Hah?</p>
<p>Saya telah menonton AAC, saya juga membeli dan telah membaca novelnya. Bahkan saya pun membeli VCD bajakannya. Jadi saya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/03/ayat-ayat-tolol/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka Anggap Saya Tolol</title>
		<link>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/03/hello-world/</link>
		<comments>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/03/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 05:32:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>orangtolol</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Saya tahu mereka menganggap saya tolol. Ada yang mengatakannya langsung, bahkan menghardikkannya di muka saya. Ada yang hanya membatinnya ketika bertemu saya atau saat membaca tulisan saya.
Kalau dipikir-pikir, saya kadang sadar juga, saya memang tolol, hehehehe. Setelah saya renung-renungkan, saya refleksikan, memang banyak sekali ketololan yang saya pikirkan, saya katakan, saya tuliskan dan saya lakukan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tahu mereka menganggap saya tolol. Ada yang mengatakannya langsung, bahkan menghardikkannya di muka saya. Ada yang hanya membatinnya ketika bertemu saya atau saat membaca tulisan saya.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir, saya kadang sadar juga, saya memang tolol, hehehehe. Setelah saya renung-renungkan, saya refleksikan, memang banyak sekali ketololan yang saya pikirkan, saya katakan, saya tuliskan dan saya lakukan. Bila doktrin pramuka berbunyi, suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, dalam diri saya doktrin itu berubah jadi tolol dalam pikiran, perkataan, tulisan dan perbuatan. <img src='http://orangtolol.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya sebenarnya stress juga menghadapi ketololan saya. Apalagi kalau saya lihat di sekeliling saya begitu banyak orang yang pintar dan hebat-hebat. Tapi ketika saya lihat-lihat lagi, saya amat-amati lagi, di sekeliling saya, ternyata ada juga orang tolol, (setidaknya menurut anggapan saya yang tolol ini loh),  maap ya. Jadi saya pikir, saya tidak perlu terlalu stresslah atau menjadi sangat minderlah, karena saya tidak  sendirian menjadi orang tolol.  Hehehehe. Dasar orang tolol!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangtolol.blogdetik.com/2008/04/03/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.214 seconds -->
