Feed on
Posts
Comments

JAM-JAM KEHENINGAN

Jendela, daun-daun, sinar matahari
Pagi hari, cintaku padamu
Kapan hatimu menemukan duka-dukaku?

Berisik anak-anak, waktu yang menjadi pendek
Harapan-harapan hari ini
Seberapa lama bisa kaupahami kesederhanaan ini?

Detik dan menit yang mencuri hidup kita
Sekian ucapan dan janjiku yang berulang dan hilang
Adakah yang bisa kuharapkan, dari sekedar bahagia?

Aku, dirimu, dinding-dinding, dan jalan-jalan yang berdebu itu
Jarak, kelelahan dan jam-jam keheningan
Benarkah ada yang lebih indah dari do’a kecil ini?

(Buat M, Depok, 5/6/2008 02.12)

Terkenang Munir

Diarsenik, kau tak berhenti mengkritik

Dibungkam, suaramu tetap lantang

Dilenyapkan, nyalamu tak bisa padam

Depok, 15 Mei 2009

Perempuan Berkepala Tiga

Ia gundah

apa agenda hari ini

politisi ribut berebut kursi, koran pagi, balckberry,

secangkir kopi untuk suami, sebotol susu untuk si bayi

Ia resah

lengkingan bocah, wangi parfum

bau darah

Ia mengeluh dunia gaduh

menaiki angin, pergi

memburu sepi, menjala sunyi

tapi sendiri tak bisa ditemui

Melilitkan tudung di kepala,

bertanya-tanya

pilih bahagia atau bermakna

(Pondok Cabe, 03.00 WIB, 30/4/2009)

Setiap puisi selesai kubaca

aku merasa binar mataku jadi berbeda

debar jantungku tidak lagi sama

setiap pusi selesai kubaca

aku seperti tengah jatuh cinta

(:setelah membaca ‘Padamkan Mataku’ Rilke, 29 April 2009)

Aku tahu, aku akan jadi manusia antik jika datang di ulang tahun perempuan liar itu. Perempuan yang telah meracuni pikiranku bertahun-tahun lalu itu. Aku malas sebenarnya tapi aku sudah terlanjur janji akan datang.

Maka setelah melewati neraka, berdesakan dengan tubuh-tubuh tanpa nama, aku sampai di kafe K, tak jauh dari Erasmus Huis (nama pusat Kebudayaan Belanda ini mempesonakanku saat aku belum menginjakkan kaki di Jakarta, ada kisah kartu pos, sepenggal puisi Goenawan Mohamad, tapi tidak akan kuceritakan di sini).

Ok, kembali ke laptop (eh ke cerita ulang tahun perempuan liarku itu). Hehehee, garing ya?

Aku sampai di kafe K. Masih sepi. Tapi Si cantik langsing berambut kriwil itu sudah ada. Aku mendekatinya. Ia tersenyum menyambutku. Menerima uluran tanganku. Merangkul bahuku, lalu cium pipi kanan, cium pipi kiri. Hmmm bau harum tubuhnya tercium.

“Makasih ya, kamu mau datang. Kupikir nggak bakal datang loh,” katanya. Aku tersenyum saja. Bingung harus ngomong apa. Ia lalu menggiringku ke sebuah meja. Kami duduk berhadapan. Eh belum lama, ia sibuk menawariku minuman, coca cola saja ya, nggak mungkin kan wine? aku mengangguk.

Lalu Ia datang membawa coca cola dan kekasihnya. Ia memperkenalkan kekasihnya, yang hidup serumah dengannya, padaku.  Kami berjabatan tangan.  (Oh ini toh pria yang teleh memberinya benih untuk melahirkan novelnya yang penuh energi itu? batinku. Emh….pria itu kok, susah ngomongnya, yang jelas tidak sesuai dengan bayanganku. Maaf).

Lalu datang seorang pria muda. Ia mengaku bukan wartawan tapi dosen (belakangan nama pria muda ini mulai terkenal). Terang-terangan si pria yang bukan wartawan tapi dosen ini menunjukkan rasa sukanya pada si perempuan liar cantik itu.  Ia menyanyikan sebuah lagu pop band yang sedang ngetop khusus untuk perempuan cantik itu. Tentu lagu cinta melulu.

Akhirnya giliranku berduaan dengannya datang. Aku memberi perempuan yang lebih tua tujuh tahun dariku itu sebuah tawaran. Perempuan itu menolaknya dengan alasan sibuk.   Ia mengusulkan seorang teman.  Aku setuju saja.

Lalu acara ulang tahun menjadi ramai. Tamu-tamu makin banyak berdatangan.

Si cantik langsing itu di usia 40 tahun memang tetap mempesona. Aku mengaguminya, berharap bertemu lagi dengannya dan terus mencemburui kecermelangannya. Tapi tidak untuk jatuh cinta. Aku tahu pasti itu.

Eli, Eli, Tuhanku, Tuhanku

mengapa kau biarkan Palestina seperti ini,

seribu orang lebih mati dibunuhi

termasuk bayi-bayi

* Pondok Cabe, 15 Januari 2009

Mengapa sudah lama blognya nggak diisi?

…habis sekarang dah cerdas sih, dah nggak tolol lagi

….wah sibuk banget, nggak sempat

……nggak punya ide nulis hehehhhe…

Halah! Lagian siapa yang peduli dengan blogmu? Sok kepedean saja!

Okelah, mumpung besok ada ulang tahun seorang perempuan cantik, aku akan curhat soal pertemuan dengan seorang perempuan ‘liar’ yang telah meracuni pikiranku sejak kuliah dulu.

Akhirnya aku bertemu dan bisa janjian untuk ngobrol dengan perempuan itu. Begitu si dia yang ayu itu bilang yes, aku pun deg-degan. Aku bingung dengan baju apa yang akan kukenakan. Sampai dua kali aku ganti baju. Aku takut perempuan ini akan memberi penilaian tertentu atas penampilanku. Mungkin dia akan berpikir aku adalah kelompok ekstrimis karena penampilanku, waduh bisa berbahaya. Aku juga nggak mau dia menyimpulkan aku seorang yang tolol, meski sebenarnya sih aku memang tolol, tapi ya aku nggak mau ketahuan di depannya lah.

Akhirnya aku bertemu dengan perempuan itu. Kami duduk berhadapan. Dia mengenakan kaos singlet merah. Rambut panjangnya dibiarkan terurai panjang. Ia membawa laptop. Lalu aku bertanya, apa kabar? hehehhe…

ia menanyakan di mana kantorku? Dengan kantor Matra dulu itu di mananya? Hmmm Matra dulu, kantornya di mana? Hahahahha, waktu itu aku belum ke Jakarta kali hehhehe. Si mbak yang cantik dan aku kan selisih umur 7 tahun. Kala itu aku masih kuliah mbak….Tapi semua cuma kubatin……

Lalu bla bla bla, ia bercerita tentang pacarnya….tentang pandangannya soal agama…..tentang sastra….tentang perempuan yang tidak suka membaca….tentang gosip yang membelitnya….dan tentu saja tentang buku dan prinsip hidupnya. blablabla……blablabla….

Tak terasa 2 jam sudah. Aku masih memandangnya. Menatapnya….mengagumi kebebasannya….mengagumi kecermelangannya….juga mencemburuinya……..

Sampai kami tak bertemu lagi berbulan-bulan kini, dan janjian akan bertemu lagi nanti, aku tetap mencemburuinya.

Salah satu yang terbaik  dari beberapa hal yang kulakukan  pada satu bulan  terakhir,  selain menonton film “The Unbearable Lightness of Being  (Phillip Kaufman)”,  serta menyelesaikan novel “Shadow of The Pomegranate Tree (Tariq Ali)”,  adalah mendengarkan lagu-lagu dari album terbaru Oasis, “Dig Out Your Soul”, yang dirilis 6 Oktober lalu.

Sejauh ini,  saya baru  mendengarkan lagu-lagu dari album “Dig Out Your Soul”  dari cd bajakan seharga 6 ribu perak, yang saya beli di salah satu lapak dekat terminal Lebak-Bulus. Tapi, meski baru kudengar dari cd  bajakan,  kebahagiaan sederhana,  yang kuperoleh dari kesegaran dan kegairahan  mendengarkan  lagu-lagu dari album  ketujuh Oasis tersebut  tak bisa kugambarkan.

Lagu-lagu dalam “Dig Out Your Soul”,  memang tidak se-intelek atau se-akademis track-track dalam “In Rainbow”, album terbaru Radiohead  (2008). Tidak juga seambisius dan sekolosal lagu-lagu pada album anyar Coldplay  “Viva La Vida  or Death And All His Friends” (2008).

Mendengar  “Dig Out Your Soul”,  bahkan harus sedikit sabar,  karena sebagian besar lagu-lagu dalam album itu tidak  taat pada  standar  “enak di kuping”,  seperti  lagu-lagu komersial, yang saat ini banyak bersliweran di  stasiun radio dan televisi kita.  Sekilas, deretan track demi track dari album  ini  memang terdengar  kasar, mentah, mengawang,  penuh ambience,  dan seringkali repetitif.

Namun,  bagi sebagian orang yang jenuh  dengan bias  kriteria lagu bagus —yang harus easy listening,  catchy,  melodius,  (dan untuk konteks Indonesia) harus mellow—-  mungkin, dengan perasaan membuncah, akan segera menyambut album terbaru Oasis ini dengan berteriak dalam hati :  Horee…. akhirnya ada lagi album rock  bagus, yang layak dikoleksi, dan didengar sampai tua….

Hal utama, yang membuat  “Dig Out Your Soul”  terasa berbeda dari kebanyakan album musik yang ada saat ini, adalah  tekstur dan warna musiknya yang keluar mainstream. Sebagian penikmat musik rock,  mungkin akan menilai aroma psikadelik yang berpendar dari banyak lagu di album ini sebagai hal yang dekaden, atau setidaknya anakronistik.

Tak kurang dari sebagian kritikus (terutama kritikus musik Amerika)  menuding beberapa riff, coda, dan bahkan lirik dari  beberapa lagu dalam album ini :  seperti  “The Turning”,  “(Get off your) High Horse Lady”,  “The Shock of Lightning”,  dan  “I’m Outta Time”,  tak lebih dari contekan lagu-lagu The Beatles dan John Lennon.  Beberapa lagu lain,  seperti “Waiting for The Rapture”,  “Bag it Up” dan  “The Nature of Reality” juga dihubung-hubungkan dengan ciri musical The Doors, The Who, dan Led zeppelin.

Tudingan itu boleh saja, sich….  Tapi menyamakan “The Turning” dengan “Dear Prudence (The Beatles)”, hanya karena  melodi coda-nya yang mirip,  tentu agak berlebihan, karena bahkan mood, sound, dan tendensi liriknya sangat  berbeda.

Yang terjadi, menurut saya justru sebaliknya :  Oasis secara cerdik bisa memanfaatkan kekayaan refensi  rock klasik mereka,  untuk mendedahkan energi artistik, keliaran, dan emosi musikal  mereka  dalam karya yang solid,  dan pada akhirnya autentik.

Lagu  “(Get Off Your) High Horse Lady”  —-yang  melody loop drum-nya  sedikit mirip lagu  “Give Peace A Chance (John Lennon)”—- misalnya,  adalah  contoh brilian,  bagaimana  Oasis (Noel Gallagher),  mampu menciptakan  lagu psikadelik, yang tidak standar, dan  tidak terduga.  Lagu dengan lirik singkat, yang sepintas seperti  penerjemahan adegan pada sebuah lukisan realis era impresionis ini—- sangat unik dan indah,  karena  bisa mentransformasikan  instrumen  perkusi, hingga menghasilkan sound dan melody  yang mengawang, selaras dengan gaya vokal Noel yang sangat  psikadelik.

Pemakaian instrumen drum atau perkusi, sebagai  instrumen utama untuk menghasilkan melody atau sound psikadelik,   selama ini sangat jarang  dilakukan. Karena umumnya,  sound-sound dan melody psikadelik, dihasilkan dari permainan efek kibor dan slide gitar.

Lewat album ini, Liam adik Noel, yang mulai menciptakan lagu sejak album keempat Oasis, “standing on The Shoulder of Giants” (2000), juga makin memperlihatkan kejeniusannya dalam menghasilkan lagu bagus.  Salah satu dari 3 lagu ciptaan Liam dalam album  “Dig Out Your Soul”,  yang berjudul  “I’m Outta Time”  disebut beberapa kritikus sebagai salah satu kandidat  lagu terindah dalam dekade ini.  Lagu bercorak balada dengan iringan piano, yang diciptakan Liam  sebagai  tribute bagi  John Lennon ini, memang sangat  menawan dan menghanyutkan.

Tapi, track favoritku dalam  “Dig Our Your Soul”,  tetap lagu “The Turning”  dan “Falling down”,  yang  struktur beat-nya sangat nge-groove, dengan permainan gitar dan bass-line yang sangat memukau. Wow….

Pada “The Turning” gaya  bernyanyi  Liam Gallagher yang ringan,  terdengar sangat menekan  saat  menyenandungkan  bait-bait  lirik paradoks  seperti ini……..

“We live with numbers
Mining a dream for the same old song
What hope for the turning
If everything you know is wrong”

Dan, masih tentang mimpi, yang selalu “lost and found” dalam perjalanan hidup manusia,  Noel Gallagher  juga berteriak lirih dalam  lagu “Falling down”  dengan emosi yang  sangat merobek hati….

“We live a dying dream
If you know what I mean

Summer sun that blows my mind
Is falling down on all that I’ve ever known
Time to kiss the world goodbye
Falling down all that I’ve ever known”

Di  luar aransemen musiknya yang selalu soulfull, dan asyik,  lirik-lirik lagu Oasis yang lugas, dan jujur  memang  selalu menjadi  kekuatan tersendiri grup asal Manchester , Inggris  tersebut.   Dan tema mimpi,  dengan segala kisah sedih dan bahagiannya, memang sering menjadi  benang merah utama lagu-lagu Oasis  sejak  band  itu berlatih tiap malam di sebuah gudang  pada awal tahun 90-an,  hingga lagu-lagu  mereka yang terkini………

Album pertama mereka,  “Definitely Maybe (1994)” misalnya, banyak bertutur tentang mimpi-mimpi  naif mereka sebagai anak muda :  tentang  mimpi mereka menjadi  bintang Rock n’ roll  (lagu “Rock n’ Roll Star”),  mimpi hidup abadi  (lagu “Live Forever”),  sampai tentang mimpi yang berantakan gara-gara gegabah mencari pasangan hidup  (lagu “Married With Children”).  Sedikit tentang lagu “Live Forever”,  single balada  itu,  dikemudian hari justru sering dinyanyikan beberapa grup musik atau penyanyi lain dalam sebuah gig, untuk mengenang atau memberikan penghormatan  pada seorang tokoh  panutan  yang mati muda (baik  pemusik, pemain bola, sampai  demonstran….)

Album kedua Oasis,  (What’s The Story) Morning Glory  (1994) juga banyak bertutur tentang keajaiban mimpi, dan bagaimana  kita seharusnya berteman dengannya.  Di album dengan himpunan lagu-lagu yang nyaris semuanya bagus ini,  tema mimpi juga bertebaran dalam beberapa lagu, terutama pada lagu “Morning Glory”, yang menjadi  tema sentral album ini.

“All your dream are made
When you’re chaine to (your) mirror with (your) razor blade
Today the day that all the will see

Another Sunday afternoon
(I’m) walking to the sound of your favorite tune
Tomorrow never knows what  it dosen’t know too soon

Need a little time to wake up
Need a little time to wake up  wake up
Need a liitle time to wake up
Need a little time to rest your mind
You know you should so I guees you might as well
What the story?  Morning glory? “

Namun, dari tujuh album Oasis, album “Masterplan (1999)” barangkali merupakan  album  yang paling utuh, bertutur  tentang mimpi  dengan segala energi, harapan, dan  ironi-ironinya.  Album yang merupakan kompilasi dari single-single awal Oasis, sebelum mereka terkenal dan  menjual puluhan juta copy album ini, merupakan salah satu album favoritku sepanjang masa.  Saya sangat menyukai lagu-lagu dalam album ini, karena sentimen dan refleksi emosinya yang sangat jernih dan jujur.

Lagu-lagu seperti “Going No Where” (tentang mimpi keluar dari kehidupan rutin yang menekan),  “Underneath the Sky” (tentang betapa sederhananya hal yang kita butuhkan untuk menjalani hidup yang bebas dan bahagia:  keberanian, dan   sahabat….),  “Half The Word Away”  (soal paradok antara keinginan berubah, dan kebodohan berulang yang selalu kita lakukan), hingga lagu “Rockin’ Chair”  (tentang keinginan menjadi selalu lebih baik, tak peduli kata orang), adalah lagu-lagu anthem, yang selalu terbayang sendu di benakku setiap naik bis saat berangkat dan pulang kerja, menyusuri jalan-jalan kota yang kadang sangat sunyi (pada tengah malam) dan kadang begitu riuh dan macet….

“So  wish me away to an unknown place
I’m livin in a land with no name
I’ll be making a star with my brand new heart
Stop me making sense once again

All  we need is our lifes in a suitcase
They belong to friend of a friend
And as we dream to ourselves we’ll  amuse our selves
Underneath the sky
Underneath the sky again
Underneath the sky again “

Hingga album ke-enam mereka, “Don’t  Believe The Truth (2005)”,   mimpi masih menjadi obsesi dan tema utama bebarapa lagu Oasis.  Dalam album yang sangat beraroma rock and roll ini (dengan pengaruh musikal yang lebih beragam, dari Dylan, Velvet Undergorund hingga Kinks),  tema tentang kekuatan mimpi,  terutama muncul dalam lagu “Keep The Dream Alieve” yang sangat menggugah, meski lagu itu sebenarnya beraroma kesedihan…..

“I’m  at the crossroads, waiting for a sign
My life is standing still,  but  I’m still alive
Every  night I think I know
In the morning –where dit it go?
The answers disappear when I open my eyes

I’m no stranger to this place
Where real life and dreams collide
And  even though I fall from grace
I will keep the dream alive
I will keep the dream  alive “

Perjalanan hidup dua gembong Oasis, Gallagher bersaudara (Noel dan Liam) memang nyaris seperti sebuah mimpi.  Lahir dari sebuah keluarga  buruh yang bercerai,  kehidupan Noel dan Liam jauh dari keindahan masa kecil ala anak-anak kelas menangah dan borjuis Inggris.  Noel, sang kakak yang berselisih 5 tahun dari Liam,  keluar dari sekolah saat baru duduk  di kelas II SMA, karena tidak melihat masa depan.  Dia kemudian sempat bekerja berkelana menjadi roadie band tidak terkenal, Inspiral Carpet selama beberapa tahun.

Sang adik,Liam, lebih tragis lagi, sudah keluar dari sekolah saat baru duduk di kelas dua SMP,  untuk  selanjutnya  bekerja  sebagai buruh di sebuah pabrik minuman. Hidup mereka berubah, setelah suatu ketika Liam menonton konser grup Stone Roses.  Terpukau dengan konser itu, Liam dan teman sesama  buruhnya,  membentuk  band Rain—yang belakangan beruah menjadi Oasis— dengan alat sewaan. Belakangan, sang Kakak, Noel  ikut bergabung dengan Oasis, setelah ditelpon sang ibu agar pulang kampung.

Masa kecil dan latar belakang keluarga Noel dan Liam, yang  miskin, tidak berpendidikan, dan sering menjadi sasaran kekerasan sang ayah (yang pemabuk), kadang memang membuat  attitude dan kelakuan mereka liar, hingga menjengkelkan banyak  kalangan.  Namun,  bakat dan kejeniusan mereka dalam menghasilkan lagu-lagu bagus,  tidak bisa dibantah oleh siapapun.

Sebuah polling yang digelar untuk  memperingati 50 tahun tangga (chart) lagu dan album Inggris, dengan  puluhan ribu responden  di seluruh dunia,  baru-baru ini  menempatkan  dua album mereka  “,  “Definitely Maybe (1994)”  dan  “(What The Story) Morning Glory? (1994)” dalam  urutan pertama dan kedua album terbaik sepanjang masa, mengalahkan  album  magnum opus  The Beatles “Sergeant Pepper Lonely Heart Club Band” (urutan ketiga),  album masterpiece  Radiohead  “OK, Computer “ (urutan keempat), dan  album tonggak  “Dark Side of The Moon” dari Pink Floyd (urutan kelima).

Saya selalu beranggapan,  dengan  latar belakang sosial dan pendidikan  meraka yang sangat tidak bisa dibanggakan,  kunci utama keajaiban Oasis dalam  menghasilkan  lagu-lagu  yang mempengaruhi hidup begitu banyak orang,  antara lain adalah berkat  hasrat dan mimpi-mimpi mereka….. serta kejujuran musik mereka…..  yang mengetuk langsung ke hati-sanubari para pendengar lagu-lagu mereka.

Ada waktunya, Pasti

Tenanglah,

semua ada waktunya sendiri

pasti!

Jika sudah gilirannya

meski kau sembunyi

atau lari seribu kali

tetap tak bisa dihindari

(buat A, yang gelisah, maaf si tolol ini tak bisa memberimu nasehat yang lebih bijak, hehehehee)

Hidupku…… hidupku……

Tak mudah kurangkum diriku dalam satu-dua pemaknaan. Ini bukan karena karena aku kompleks, atau karena aku sosok yang sederhana. Tak mudah, bahkan untuk sekedar mengerti siapa diriku ini. Apakah aku memang seperti aku adanya? Ataukah aku sekedar obsesi-obsesi yang meng-aku : sebuah harap terselubung, sebuah idealisasi?

Aku, orang yang berbahagia, dipenuhi harapan, tapi tidak bisa mengelak dari kesedihan, keputus-asaan, serta rasa penasaran dan ketakfahaman pada berbagai kesederhanaan dan misteri kehidupan.

Dan hai, sekarang di sinilah aku duduk….. menulis beberapa deret kesimpulan, pertanyaan, juga jawaban, untuk sejumlah lika-liku sederhana yang kutemui,
mungkin di separuh perjalanan hidupku. Mencoba berkaca pada kilasan insiden, peristiwa, kebetulan, hingga sekadar usaha-usaha mengisi dan menunda ketidakabadian.

Ada hari-hari yang tertulis rapi, indah, dan meninggalkan jejak yang hangat pada tahun, bulan, hari, jam, dan menit-menit yang berlalu. Aku masih mengingatnya, dengan kenangan tersenyum. Tapi, tidak pernah kuharapkan hari-hari itu kembali, karena kutemukan keindahan pada kisah-kisah masa lalu itu, setelah banyak kutafsirkan kepedihan, dengan segenap luka dan permaafanku.

Hari ini, tentu saja hanyalah lanjutan langkah-langkah kecilku, yang sebentar kemudian akan menjadi jejak. Ada kegamangan: apakah langkah-langkah kecil ini harus dilanjutkan? Namun, dengan sederhana juga bisa kukatakan, bahwa kutemukan pula keteguhan sederhana: bukankah langkah-langkah kecil ini yang menjadikanku berarti?

Karena semua itu, istriku…..
Aku mencintaimu, karena aku hanya ingin mencintaimu, dan ingin tetap mencintaimu, dengan semua keindahan dan kesederhanaan yang bisa kusyukuri dari kehidupan, dan kehadiranmu….

I love you

******

: itu email dari suamiku saat aku selama satu minggu karena tugas kantor, tidak bisa pulang ke rumah. Itu juga surat cinta pertama setelah 7 tahun kami menikah. Kami, aku dan suami, setelah tinggal serumah setelah menikah, memang tidak pernah lagi surat-suratan. Apa-apa langsung diomongkan kalau ketemu.

Aku sangat suka email suamiku itu, membaca email itu aku jadi teringat puisi ‘Aku Ingin’ -nya Sapardi Djoko Darmono. Hehehehehee, narsis ya? Si tolol ini memang referensi soal puisinya sangat terbatas, paling-paling ingetnyaSapardi aja.

Oh ya, sehabis membaca email itu aku juga menangis, hahahhaa, dan lagi-lagi teringat puisinya Sapardi ‘dalam diriku’ yang terilhami lagu because-nya Beatles, ‘karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya. versinya Beatles, because the sky is blue, it makes me cry, because……
Ini puisi ‘Dalam Diriku’ Sapardi:

dalam diriku mengalir sungai panjang, darah namanya

dalam diriku menggenang telaga darah,

sukma namanya

dalam diriku meriak gelombang sukma, hidup namanya!

dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.

 

Yang ini lirik Because-nya Beatles:

Because the world is round it turns me on,
Because the world is round…aaaaaahhhhhh

Because the wind is high it blows my mind
Because the wind is high……aaaaaaaahhhh

Love is all, love is new
Love is all, love is you

Because the sky is blue, it makes me cry
Because the sky is blue…….aaaaaaaahhhh
Aaaaahhhhhhhhhh….

*****

Tentu jika dibandingkan dengan puisi Sapardi dan Beatles, email cinta suamiku, belum ada apa-apanya, hehehhee. Tapi bagaimana pun, email itu telah membuatku bahagia dan mensyukuri hidup. Dan itu lah poin-nya, bahagia dan mensyukuri hidup. Jadi meski tolol, aku tetap harus belajar untuk terus mensyukuri hidup.

Older Posts »