Salah satu yang terbaik dari beberapa hal yang kulakukan pada satu bulan terakhir, selain menonton film “The Unbearable Lightness of Being (Phillip Kaufman)”, serta menyelesaikan novel “Shadow of The Pomegranate Tree (Tariq Ali)”, adalah mendengarkan lagu-lagu dari album terbaru Oasis, “Dig Out Your Soul”, yang dirilis 6 Oktober lalu.
Sejauh ini, saya baru mendengarkan lagu-lagu dari album “Dig Out Your Soul” dari cd bajakan seharga 6 ribu perak, yang saya beli di salah satu lapak dekat terminal Lebak-Bulus. Tapi, meski baru kudengar dari cd bajakan, kebahagiaan sederhana, yang kuperoleh dari kesegaran dan kegairahan mendengarkan lagu-lagu dari album ketujuh Oasis tersebut tak bisa kugambarkan.
Lagu-lagu dalam “Dig Out Your Soul”, memang tidak se-intelek atau se-akademis track-track dalam “In Rainbow”, album terbaru Radiohead (2008). Tidak juga seambisius dan sekolosal lagu-lagu pada album anyar Coldplay “Viva La Vida or Death And All His Friends” (2008).
Mendengar “Dig Out Your Soul”, bahkan harus sedikit sabar, karena sebagian besar lagu-lagu dalam album itu tidak taat pada standar “enak di kuping”, seperti lagu-lagu komersial, yang saat ini banyak bersliweran di stasiun radio dan televisi kita. Sekilas, deretan track demi track dari album ini memang terdengar kasar, mentah, mengawang, penuh ambience, dan seringkali repetitif.
Namun, bagi sebagian orang yang jenuh dengan bias kriteria lagu bagus —yang harus easy listening, catchy, melodius, (dan untuk konteks Indonesia) harus mellow—- mungkin, dengan perasaan membuncah, akan segera menyambut album terbaru Oasis ini dengan berteriak dalam hati : Horee…. akhirnya ada lagi album rock bagus, yang layak dikoleksi, dan didengar sampai tua….
Hal utama, yang membuat “Dig Out Your Soul” terasa berbeda dari kebanyakan album musik yang ada saat ini, adalah tekstur dan warna musiknya yang keluar mainstream. Sebagian penikmat musik rock, mungkin akan menilai aroma psikadelik yang berpendar dari banyak lagu di album ini sebagai hal yang dekaden, atau setidaknya anakronistik.
Tak kurang dari sebagian kritikus (terutama kritikus musik Amerika) menuding beberapa riff, coda, dan bahkan lirik dari beberapa lagu dalam album ini : seperti “The Turning”, “(Get off your) High Horse Lady”, “The Shock of Lightning”, dan “I’m Outta Time”, tak lebih dari contekan lagu-lagu The Beatles dan John Lennon. Beberapa lagu lain, seperti “Waiting for The Rapture”, “Bag it Up” dan “The Nature of Reality” juga dihubung-hubungkan dengan ciri musical The Doors, The Who, dan Led zeppelin.
Tudingan itu boleh saja, sich…. Tapi menyamakan “The Turning” dengan “Dear Prudence (The Beatles)”, hanya karena melodi coda-nya yang mirip, tentu agak berlebihan, karena bahkan mood, sound, dan tendensi liriknya sangat berbeda.
Yang terjadi, menurut saya justru sebaliknya : Oasis secara cerdik bisa memanfaatkan kekayaan refensi rock klasik mereka, untuk mendedahkan energi artistik, keliaran, dan emosi musikal mereka dalam karya yang solid, dan pada akhirnya autentik.
Lagu “(Get Off Your) High Horse Lady” —-yang melody loop drum-nya sedikit mirip lagu “Give Peace A Chance (John Lennon)”—- misalnya, adalah contoh brilian, bagaimana Oasis (Noel Gallagher), mampu menciptakan lagu psikadelik, yang tidak standar, dan tidak terduga. Lagu dengan lirik singkat, yang sepintas seperti penerjemahan adegan pada sebuah lukisan realis era impresionis ini—- sangat unik dan indah, karena bisa mentransformasikan instrumen perkusi, hingga menghasilkan sound dan melody yang mengawang, selaras dengan gaya vokal Noel yang sangat psikadelik.
Pemakaian instrumen drum atau perkusi, sebagai instrumen utama untuk menghasilkan melody atau sound psikadelik, selama ini sangat jarang dilakukan. Karena umumnya, sound-sound dan melody psikadelik, dihasilkan dari permainan efek kibor dan slide gitar.
Lewat album ini, Liam adik Noel, yang mulai menciptakan lagu sejak album keempat Oasis, “standing on The Shoulder of Giants” (2000), juga makin memperlihatkan kejeniusannya dalam menghasilkan lagu bagus. Salah satu dari 3 lagu ciptaan Liam dalam album “Dig Out Your Soul”, yang berjudul “I’m Outta Time” disebut beberapa kritikus sebagai salah satu kandidat lagu terindah dalam dekade ini. Lagu bercorak balada dengan iringan piano, yang diciptakan Liam sebagai tribute bagi John Lennon ini, memang sangat menawan dan menghanyutkan.
Tapi, track favoritku dalam “Dig Our Your Soul”, tetap lagu “The Turning” dan “Falling down”, yang struktur beat-nya sangat nge-groove, dengan permainan gitar dan bass-line yang sangat memukau. Wow….
Pada “The Turning” gaya bernyanyi Liam Gallagher yang ringan, terdengar sangat menekan saat menyenandungkan bait-bait lirik paradoks seperti ini……..
“We live with numbers
Mining a dream for the same old song
What hope for the turning
If everything you know is wrong”
Dan, masih tentang mimpi, yang selalu “lost and found” dalam perjalanan hidup manusia, Noel Gallagher juga berteriak lirih dalam lagu “Falling down” dengan emosi yang sangat merobek hati….
“We live a dying dream
If you know what I mean
Summer sun that blows my mind
Is falling down on all that I’ve ever known
Time to kiss the world goodbye
Falling down all that I’ve ever known”
Di luar aransemen musiknya yang selalu soulfull, dan asyik, lirik-lirik lagu Oasis yang lugas, dan jujur memang selalu menjadi kekuatan tersendiri grup asal Manchester , Inggris tersebut. Dan tema mimpi, dengan segala kisah sedih dan bahagiannya, memang sering menjadi benang merah utama lagu-lagu Oasis sejak band itu berlatih tiap malam di sebuah gudang pada awal tahun 90-an, hingga lagu-lagu mereka yang terkini………
Album pertama mereka, “Definitely Maybe (1994)” misalnya, banyak bertutur tentang mimpi-mimpi naif mereka sebagai anak muda : tentang mimpi mereka menjadi bintang Rock n’ roll (lagu “Rock n’ Roll Star”), mimpi hidup abadi (lagu “Live Forever”), sampai tentang mimpi yang berantakan gara-gara gegabah mencari pasangan hidup (lagu “Married With Children”). Sedikit tentang lagu “Live Forever”, single balada itu, dikemudian hari justru sering dinyanyikan beberapa grup musik atau penyanyi lain dalam sebuah gig, untuk mengenang atau memberikan penghormatan pada seorang tokoh panutan yang mati muda (baik pemusik, pemain bola, sampai demonstran….)
Album kedua Oasis, (What’s The Story) Morning Glory (1994) juga banyak bertutur tentang keajaiban mimpi, dan bagaimana kita seharusnya berteman dengannya. Di album dengan himpunan lagu-lagu yang nyaris semuanya bagus ini, tema mimpi juga bertebaran dalam beberapa lagu, terutama pada lagu “Morning Glory”, yang menjadi tema sentral album ini.
“All your dream are made
When you’re chaine to (your) mirror with (your) razor blade
Today the day that all the will see
Another Sunday afternoon
(I’m) walking to the sound of your favorite tune
Tomorrow never knows what it dosen’t know too soon
Need a little time to wake up
Need a little time to wake up wake up
Need a liitle time to wake up
Need a little time to rest your mind
You know you should so I guees you might as well
What the story? Morning glory? “
Namun, dari tujuh album Oasis, album “Masterplan (1999)” barangkali merupakan album yang paling utuh, bertutur tentang mimpi dengan segala energi, harapan, dan ironi-ironinya. Album yang merupakan kompilasi dari single-single awal Oasis, sebelum mereka terkenal dan menjual puluhan juta copy album ini, merupakan salah satu album favoritku sepanjang masa. Saya sangat menyukai lagu-lagu dalam album ini, karena sentimen dan refleksi emosinya yang sangat jernih dan jujur.
Lagu-lagu seperti “Going No Where” (tentang mimpi keluar dari kehidupan rutin yang menekan), “Underneath the Sky” (tentang betapa sederhananya hal yang kita butuhkan untuk menjalani hidup yang bebas dan bahagia: keberanian, dan sahabat….), “Half The Word Away” (soal paradok antara keinginan berubah, dan kebodohan berulang yang selalu kita lakukan), hingga lagu “Rockin’ Chair” (tentang keinginan menjadi selalu lebih baik, tak peduli kata orang), adalah lagu-lagu anthem, yang selalu terbayang sendu di benakku setiap naik bis saat berangkat dan pulang kerja, menyusuri jalan-jalan kota yang kadang sangat sunyi (pada tengah malam) dan kadang begitu riuh dan macet….
“So wish me away to an unknown place
I’m livin in a land with no name
I’ll be making a star with my brand new heart
Stop me making sense once again
All we need is our lifes in a suitcase
They belong to friend of a friend
And as we dream to ourselves we’ll amuse our selves
Underneath the sky
Underneath the sky again
Underneath the sky again “
Hingga album ke-enam mereka, “Don’t Believe The Truth (2005)”, mimpi masih menjadi obsesi dan tema utama bebarapa lagu Oasis. Dalam album yang sangat beraroma rock and roll ini (dengan pengaruh musikal yang lebih beragam, dari Dylan, Velvet Undergorund hingga Kinks), tema tentang kekuatan mimpi, terutama muncul dalam lagu “Keep The Dream Alieve” yang sangat menggugah, meski lagu itu sebenarnya beraroma kesedihan…..
“I’m at the crossroads, waiting for a sign
My life is standing still, but I’m still alive
Every night I think I know
In the morning –where dit it go?
The answers disappear when I open my eyes
I’m no stranger to this place
Where real life and dreams collide
And even though I fall from grace
I will keep the dream alive
I will keep the dream alive “
Perjalanan hidup dua gembong Oasis, Gallagher bersaudara (Noel dan Liam) memang nyaris seperti sebuah mimpi. Lahir dari sebuah keluarga buruh yang bercerai, kehidupan Noel dan Liam jauh dari keindahan masa kecil ala anak-anak kelas menangah dan borjuis Inggris. Noel, sang kakak yang berselisih 5 tahun dari Liam, keluar dari sekolah saat baru duduk di kelas II SMA, karena tidak melihat masa depan. Dia kemudian sempat bekerja berkelana menjadi roadie band tidak terkenal, Inspiral Carpet selama beberapa tahun.
Sang adik,Liam, lebih tragis lagi, sudah keluar dari sekolah saat baru duduk di kelas dua SMP, untuk selanjutnya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik minuman. Hidup mereka berubah, setelah suatu ketika Liam menonton konser grup Stone Roses. Terpukau dengan konser itu, Liam dan teman sesama buruhnya, membentuk band Rain—yang belakangan beruah menjadi Oasis— dengan alat sewaan. Belakangan, sang Kakak, Noel ikut bergabung dengan Oasis, setelah ditelpon sang ibu agar pulang kampung.
Masa kecil dan latar belakang keluarga Noel dan Liam, yang miskin, tidak berpendidikan, dan sering menjadi sasaran kekerasan sang ayah (yang pemabuk), kadang memang membuat attitude dan kelakuan mereka liar, hingga menjengkelkan banyak kalangan. Namun, bakat dan kejeniusan mereka dalam menghasilkan lagu-lagu bagus, tidak bisa dibantah oleh siapapun.
Sebuah polling yang digelar untuk memperingati 50 tahun tangga (chart) lagu dan album Inggris, dengan puluhan ribu responden di seluruh dunia, baru-baru ini menempatkan dua album mereka “, “Definitely Maybe (1994)” dan “(What The Story) Morning Glory? (1994)” dalam urutan pertama dan kedua album terbaik sepanjang masa, mengalahkan album magnum opus The Beatles “Sergeant Pepper Lonely Heart Club Band” (urutan ketiga), album masterpiece Radiohead “OK, Computer “ (urutan keempat), dan album tonggak “Dark Side of The Moon” dari Pink Floyd (urutan kelima).
Saya selalu beranggapan, dengan latar belakang sosial dan pendidikan meraka yang sangat tidak bisa dibanggakan, kunci utama keajaiban Oasis dalam menghasilkan lagu-lagu yang mempengaruhi hidup begitu banyak orang, antara lain adalah berkat hasrat dan mimpi-mimpi mereka….. serta kejujuran musik mereka….. yang mengetuk langsung ke hati-sanubari para pendengar lagu-lagu mereka.